Hera Diani Articles
Hera Diani Articles



Tuesday, August 28, 2007

INDONESIA: Female condom programme falters


http://www.plusnews.org/Report.aspx?ReportId=73983

JAKARTA, 28 August 2007 (PlusNews) - Ningsih [not her real name], 22, was taken aback when she was handed a pack of two female condoms in Jakarta, capital of Indonesia, but was even more surprised when she opened one. Measuring 17cm long and 7cm in diameter with a sponge attached inside, the female condom is indeed large compared to a male condom.

"My, it's so huge. Will it be painful using it?" asked the self-professed freelance sex worker, who was hanging out at a sidewalk stall in the Pramuka area of East Jakarta, a well known pick-up spot.

She told IRIN/PlusNews she was not willing to try the female condom; she was fine with a tri-monthly contraceptive injection, which kept her from getting pregnant.

What about sexually transmitted infections (STIs)? "I heard condoms might prevent that, but most of the clients don't want to use them, and I don't dare to insist, although I sometimes provide them," she said. "If a client ejaculates inside me I wash with Betadine," she added, referring to a popular feminine hygiene product.

Indonesia has worked hard to increase condom use but, hampered by a strong patriarchal culture and a sporadic approach to promoting them, the results have been disappointing.

Data from the nonprofit public health organisation, Family Health International, puts Indonesia at the bottom of a list ranking condom usage in Asian countries.

According to official statistics from June 2007, the country's HIV infection rate has reached around one percent, with 5,813 recorded cases of people living with HIV and another 9,689 people living with AIDS, but experts estimate that the real number of HIV-infected Indonesians is between 90,000 and 250,000 out of a population of 223 million.

While HIV infection rates are highest among injecting drug users (IDUs), sex workers and their clients, government officials estimate that 20 percent to 30 percent of infections occur during unprotected sex.

"We've done campaigns to increase [male] condom use and failed. We're facing an alarming situation at the moment, with the general population becoming infected," Sri Kusniyati, deputy secretary of the National AIDS Commission, told IRIN/PlusNews

HIV infections have already become generalised in the easternmost province of Papua. In this remote mountainous area, where levels of awareness are low and condoms difficult to access, more than two percent of the 2.5 million population are estimated to be HIV-infected.

Some encouragement

The government ran a trial of female condoms in selected areas of Papua in August 2006. According to Kusniyati, women who tried the condoms said they and their husbands enjoyed using them.

Encouraged by the positive feedback from the trial, the government launched a national female condom programme in February 2007. Six months later, however, the programme has been criticised for poor distribution and supply, the high price of the condoms (15,000 rupiahs, or US$1.60 for a pack of two), and even for discriminating against women.

"It has been a year since the female condom was distributed in Papua but, until today, not even one condom can be accessed by our group and we're based in the provincial capital [Jayapura], not in a remote area," said Robert Sihombing of the Jayapura Support Group, a local organisation that provides food packages, financial assistance and emotional support to local people living with HIV/AIDS.

Activists have slammed the programme for, once again, putting the burden on women. "The campaign against HIV/AIDS in this country is often discriminatory," said activist Mukhotib MD from Magelang, a city in Central Java Province.

"In East Nusa Tenggara Province [in the eastern portion of the Lesser Sunda Islands, consisting of 550 islands], for instance, fishermen are called on not to have sex with sex workers without using a condom, but there's no mention in the campaign of not having sex with their wives without using condoms," he said.

"We're afraid that 10 years from now, if HIV infections remain uncontrolled, then women will be blamed, when in fact it's the whole problem of social construction which positions men with the rights to sex and women with the duty to serve them," Mukhotib added.

Kusniyati, of the National AIDS Commission, said the female condom programme was launched to give women more options and to empower them, not to discriminate against them. The Commission was currently training campaigners in six provinces, not only to promote female condoms but also to increase knowledge of HIV/AIDS.

The price of female condoms remained relatively high because they had to be imported, Kusniyati admitted. "We need to push for cooperation with the state Family Planning Coordinating Body, which provides contraceptive products, including condoms, for poor people ... [but it] will only launch a female condom programme some time in 2008."

Hera Diani

Labels: ,

| | Comments


Friday, August 3, 2007

Not so NEET Japanese Youth


(Published in the July 2007 edition of SOAP magazine)

Budaya pop anak muda Jepang telah memberikan inspirasi dan impresi bagi banyak orang di seluruh dunia, dari Gwen Stefani sampai juri Academy Awards. Namun di balik hip-nya Harajuku, manga dan J-Pop, generasi muda itu menyimpan kegelisahan yang dalam, jika tidak ingin disebut destruktif.

Oleh Hera Diani

Angin bertiup kencang di kampus Keio University di Tokyo saat itu dan kami, jurnalis yang rata-rata datang dari negara dunia ketiga yang beriklim tropis mulai menggigil. Eri Miyoshi, mahasiswi S1 jurusan ekonomi di universitas tertua di Jepang yang ditunjuk sebagai chaperone itu tertawa kecil melihat keadaan kami.

"Ini sama sekali belum terasa dingin buat kami," ujar Eri, dengan bahasa Inggris logat Amerika yang lancar, sisa-sisa menjadi peserta pertukaran pelajar. Ia, seperti layaknya anak muda Jepang, sangat keren dan trendi, dengan rok mini dan sepatu bot, dan sesekali bercanda dengan kawan-kawannya yang juga tampak sangat stylish tapi juga quirky, khas anak muda Jepang.

Melihat mereka sekilas, sepertinya anak muda Jepang had it all good. Datang dari negara maju dan kaya di mana cuma ada dua kelas ekonomi, kelas atas dan kelas menengah, tidak ada kelas bawah di Jepang. Anak-anak muda Jepang pun dikenal kreatif dan punya gaya sendiri, dengan budaya pop yang menginspirasi dunia.

Namun di balik itu semua, bahkan Eri dan kawan-kawan pun menyimpan kegelisahan. Selain ketatnya persaingan dan sistem pembelajaran di universitas, setelah lulus, persaingan pun semakin tajam ditambah budaya dan beban di tempat kerja yang begitu berat, dengan jam kerja yang panjang.

"Meski kami mahasiswa universitas terkemuka, tapi belum tentu juga kami akan mudah mendapat kerja. Banyak teman kami yang tidak kunjung mendapat pekerjaan, akhirnya malah menjadi NEET," kata Eri.

Apa pula itu?
Pertama kali dilontarkan di Inggris, NEET merupakan singkatan dari 'Not currently engaged in Employment, Education and Training', alias orang-orang yang tidak sedang bersekolah, bekerja atau ikut pelatihan serta tidak menikah.

Jika tidak melakukan aktivitas-aktivitas tersebut, jadi apa yang mereka lakukan sehari-hari? Ya, nongkrong-nongkrong gitu deh. Atau diam seharian di rumah (orang tua), bahkan mengunci diri di dalam kamar.

Di Jepang, fenomena NEET ini telah memunculkan isu sosial dan ekonomi yang serius karena kurang lebih satu dari 40 orang dari kelompok umur 15 sampai 34 tahun atau sekitar 850,000 orang menurut data 2004 tergolong NEET. Diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah menjadi 984.000 pada 2010. Belum lagi ada sekitar dua juta orang muda yang lebih suka jadi freeters alias loncat dari satu pekerjaan paruh waktu ke pekerjaan paruh waktu lainnya, ditambah sekitar 650.000 orang lainnya (data lain mematok angka 1,46 juta) yang pengangguran.

Semua masalah ini tentunya meresahkan karena bisa merusak ekonomi negara berpenduduk 128 juta itu. Anak-anak muda yang seharusnya produktif (60 persen NEET berusia 25-34 tahun) dan menyumbang pada pendapatan negara, salah satunya dengan membayar asuransi, malah ada di posisi menerima bantuan keuangan. Lebih lanjut lagi, gejala ini dikhawatirkan akan meningkatkan pemakaian narkoba, kriminalitas, dan memunculkan kelas ekonomi bawah yang tadinya tidak ada di Jepang.

NEET dan Latar Belakang
Ada beberapa jenis NEET yang dikategorikan oleh para peneliti di Japan Institute for Labor Policy and Training, yaitu tipe anti sosial dan hedonistik; tipe penarik diri, yang tidak mampu membangun relasi dengan masyarakat dan sebagai gantinya menutup diri; tipe ‘paralyzed’, yang berpikir terlalu keras dalam mencari pekerjaan dan malah menghadapi jalan buntu; dan tipe cepat menyerah, yaitu yang sudah pernah bekerja namun tidak lama kemudian keluar dari pekerjaannya dan alhasil kehilangan kepercayaan diri.

Kei Kudo, salah satu pendiri Master & Pupil (MP) yang mengorganisir NEET, mengatakan bahwa banyak NEET yang sangat tertekan karena tidak kunjung mendapat pekerjaan sampai terkena penyakit kulit dan gangguan jiwa.

"Yang termasuk NEET ini ada juga perempuan-perempuan muda yang harus tinggal di rumah untuk mengurus kakek neneknya (Jepang memiliki populasi berusia sepuh yang sangat tinggi, tapi itu soal lain). Ada juga lulusan-lulusan dari luar negeri yang kesulitan berintegrasi dengan masyarakat," katanya.

Namun Kudo menolak prasangka bahwa NEET adalah sekumpulan anak-anak manja yang terbiasa hidup enak dan tidak mau susah, karena banyak di antara mereka juga bukan anak-anak orang kaya.

"Persoalan NEET bukan sekedar anak-anak manja yang tidak mau berjuang, tapi lebih dari itu. Ada persoalan psikologis yang membuat mereka menarik diri dari masyarakat dan memilih tinggal di rumah daripada mencari pekerjaan," ujarnya baru-baru ini saat kami bertemu di Tokyo.

Mariko Fujimoto, direktur riset di lembaga penelitian Hakuhodo Inc. Institute of Life and Living, berkata bahwa kemunculan NEET dilatarbelakangi salah satunya oleh masalah ekonomi. Sepuluh sampai 12 tahun terakhir ini, menurut Fujimoto, merupakan periode yang turbulen bagi ekonomi negara matahari terbit itu, meski Jepang masih termasuk negara terkaya di dunia.

Dalam periode ini, ada perusahaan-perusahaan yang mendapuk untung, tapi banyak juga yang merugi dan akibatnya banyak yang harus mem-PHK karyawan-karyawannya. Selain itu, teknologi robot juga mengambil alih sehingga proses manufaktur di Jepang tidak lagi terlalu memerlukan tenaga manusia. Banyak juga perusahaan yang lebih memilih melakukan produksinya di negara lain. Jadi, desain bisa saja dilakukan di Jepang, tapi pabrik didirikan di luar Jepang.

"Generasi muda sekarang menghadapi situasi yang berbeda dengan generasi sebelumnya yang mencicipi masa 'booming economy'. Anak-anak muda berusia 20-30 tahun sekarang ini merupakan kelompok pertama yang mengalami masa resesi panjang. Dan meski mereka mendapatkan pendidikan bermutu, banyak yang sulit mencari pekerjaan ketika lulus SMA dan universitas," kata Fujimoto saat ditemui di kantornya yang juga merupakan biro iklan besar.

Pasar tenaga kerja menjadi sangat kompetitif dan sangat tidak stabil bagi anak muda. Banyak perusahaan yang lebih memilih mempekerjakan pegawai paruh waktu agar tidak usah memberikan asuransi dan pesangon.

Di lain pihak, bukan hanya resesi yang menyebabkan sulitnya lapangan pekerjaan, tapi ada juga masalah ketidakselarasan antara dunia pendidikan dan industri.

"Ada lulusan-lulusan yang oversupply, misalnya dari jurusan teknik, sains lingkungan, kajian Asia, ekonomi dan sosiologi. Para lulusan juga tidak terlatih dan tidak dipersiapkan untuk kebutuhan industri. Hal ini menyulitkan Jepang yang ingin lebih jauh terlibat dalam ekon" kata Fujimoto.

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Olah Raga, Sains dan Teknologi, Nariaki Nakayama mengatakan bahwa kompetisi pendidikan yang ketat juga berkontribusi dalam menghasilkan NEET ini.

"Dulu kita mengajarkan di sekolah bahwa kompetisi itu tidak baik. Tapi nyatanya begitu kita bekerja, kita dihadapkan pada kompetisi super ketat, dan anak-anak jadi bingung karenanya. Bukankah pendidikan saat ini menghasilkan gelombang NEET dan freeters yang besar?" ujarnya tahun lalu.

Produk pemanjaan orang tua
Meski Kudo menolak stigma NEET sebagai anak manja kaya, namun diakui banyak ahli bahwa sebagian NEET memang produk pola asuh dari orang tua yang terlalu memanjakan anak-anaknya.

Menurut Fujimoto, kebanyakan dari kelompok NEET ini datang dari keluarga dengan jumlah anak yang lebih sedikit dari generasi sebelumnya, dengan orang tua yang cukup berada dan sanggup membiayai pendidikan berkualitas.

"Para orang tua tersebut saking sayangnya pada anak-anak mereka, tidak memaksa anak-anaknya untuk langsung bekerja setelah lulus. Mereka senang-senang saja mengakomodasi anak-anaknya untuk sementara sehingga banyak anak muda yang masih tinggal bersama orang tuanya," katanya.

Para orang tua itu mendorong si anak untuk mencari 'passion' nya, dan meminta mereka untuk tidak bertahan dalam pekerjaan yang tidak mereka senangi.

Pola pengasuhan ini ternyata berbalik menyesatkan anak-anak muda itu. Alih-alih mencari passion hidupnya, mereka malah tidak tahu apa yang mereka inginkan dalam hidup mereka.

"Anak-anak muda ini juga tidak merasa ada masalah jika mereka tidak bekerja. Para orang tua mereka patut disalahkan karena tidak berhasil mengajarkan anak-anak mereka makna dari bekerja," ujar presiden Hosei University, Tadao Kiyonari, suatu waktu.
Atau dalam istilah salah seorang kawan, jurnalis Amerika yang sempat bertugas di Jepang selama lebih 20 tahun, "Young Japanese are not 'hungry' anymore."

Solusi untuk NEET
Prof. Akira Takanashi dari Shinshu University pernah mengatakan bahwa "Fenomena NEET merupakan pemberontakan anak muda terhadap tatanan masyarakat secara diam-diam. Jika dulu pada periode 1960an-1970an para mahasiswa memberontak secara sadar dan melakukan protes, karakteristik dari NEET sekarang ini adalah mereka tidak sadar telah melakukan protes (unconscious quality)."

Ia menambahkan bahwa masyarakat, termasuk sektor industri dan pendidikan, bertanggung jawab memecah fenomena ini. "Sekolah sangat kurang memberikan informasi pendidikan kerja," katanya.

Pemerintah Jepang sendiri pada 2005 sudah membentuk satu komite untuk membangun strategi dalam menolong anak muda menjadi lebih mandiri dan bisa menyelesaikan masalah-masalah mereka. Ada juga usulan untuk membangun sekolah di mana anak-anak muda bisa mendapatkan keterampilan dasar, dengan format seperti 'training camp.'
Kalangan industri juga sudah mulai memiliki perhatian terhadap masalah NEET. Kenzaburo Mogi, vice chairman dari Kikkoman Corporation, mengatakan bahwa industri juga turut bertanggung jawab karena tidak mampu menyediakan lapangan pekerjaan yang cukup.

"Industri seharusnya melakukan sesuatu bersama dengan pemerintah, misalnya dengan melakukan pelatihan," ujar Mogi, meski ia mengakui perusahaan tempat ia bernaung belum memiliki program untuk NEET.

Sementara itu, Kei Kudo dengan Master & Pupil-nya (www.sodateage.net) yang dibentuk 2001 berusaha membantu anak muda mendapatkan pekerjaan lewat pelatihan kerja serta pelayanan konseling.

Namun program di MP ini tidak gratis, karena biaya tiap peserta per bulannya sekitar 50.000 Yen per bulan atau sekitar Rp 10 juta, meski setengahnya disubsidi pemerintah. Pelatihan yang diberikan di antaranya pelatihan untuk sektor pertanian, informasi teknologi dan manufaktur.

Sejauh ini, menurut Kudo, sudah ada sekitar 10.000 – 15.000 orang yang sudah mendapatkan pelatihan dan bekerja di kantor pemerintahan atau swasta.

"Organisasi kami masih terbatas dalam menjangkau NEET dan menyediakan aktivitas dan kesempatan untuk mereka. Kami percaya dan merekomendasikan bahwa membangun jaringan dengan komunitas akan membantu para NEET," ujar Kudo.

Yang penting menurut Prof. Takanashi adalah masyarakat tidak memandang sebelah mata pada para NEET ini.

"Tidak ada gunanya menyalahkan NEET dan memberitahu mereka supaya berhenti bersikap seperti anak kecil. Yang paling penting adalah supaya masyarakat berubah dan lebih dekat dengan anak-anak muda ini."

Labels:

| | Comments

Search



All works contained onsite and
within this site are copyrighted
2007 © Hera Diani all rights reserved

Website design by loucee | illustration by Lambok Elvandri

Categories

Burma
Culture
Drugs
Fashion
Film
Health
HIV/AIDS
Islam
Legal
Literary
Media
Music
Profile
Politics
Religion
Review
Social Affairs
Travel
Tsunami
Urban
Women's Right

Previous Articles

  • This blog has moved
  • How One Doll Maker Is Staying Afloat in These Trou...
  • Closing Up Shop in Bandung's Toytown
  • Indonesia Mourns the Passing of a Beloved Leader
  • DEVELOPMENT: Indonesia Still Struggling with Disa...
  • Future Looks Bleak for Laid-Off Indonesian Workers
  • For Indonesian Pilgrims, the Path to Mecca is Pave...
  • Will Jakarta's MRT Arrive?
  • Tobacco Seducing More Young People
  • The Cost of Smoking: How the Farmers Are Left Fuming


  • Archives

  • July 2000>
  • September 2000>
  • December 2000>
  • April 2001>
  • May 2001>
  • June 2001>
  • August 2001>
  • September 2001>
  • November 2001>
  • December 2001>
  • March 2002>
  • May 2002>
  • June 2002>
  • August 2002>
  • October 2002>
  • November 2002>
  • December 2002>
  • January 2003>
  • February 2003>
  • March 2003>
  • June 2003>
  • July 2003>
  • August 2003>
  • September 2003>
  • November 2003>
  • January 2004>
  • February 2004>
  • March 2004>
  • April 2004>
  • July 2004>
  • October 2004>
  • November 2004>
  • December 2004>
  • January 2005>
  • February 2005>
  • April 2005>
  • June 2005>
  • July 2005>
  • September 2005>
  • December 2005>
  • January 2006>
  • February 2006>
  • April 2006>
  • May 2006>
  • July 2006>
  • August 2006>
  • September 2006>
  • October 2006>
  • November 2006>
  • December 2006>
  • July 2007>
  • August 2007>
  • February 2008>
  • April 2008>
  • June 2008>
  • July 2008>
  • September 2008>
  • November 2008>
  • December 2008>
  • January 2009>
  • May 2009>
  • October 2009>
  • November 2009>
  • December 2009>
  • February 2010>
  • May 2010>